Februari 8, 2008
· Disimpan dalam Tak Berkategori, cinta lingkungan
Sebuah foto seekor induk Badak Jawa beserta bayinya
diperkirakan berumur sekitar 4 – 6 bulan berhasil diabadikan melalui kamera intai di Taman Nasional Ujung Kulon. Kamera yang dipasang pada November 2007 lalu oleh WWF beserta mitranya tersebut merekam gambar bayi badak yang sedang menyusu pada induknya. Keberadaan bayi badak tersebut pertama kali diketahui saat tim survey WWF beserta mitranya menemukan jejak tapak badak berukuran 15/16 cm di sekitar daerah aliran sungai Citadahan pada 30 Oktober 2007. Temuan bayi badak ini merupakan kabar gembira karena menunjukkan adanya kelahiran baru di TN Ujung Kulon. Sebelumnya empat ekor bayi badak diketahui lahir di Ujung Kulon pada 2006. Taman nasional tersebut merupakan satu-satunya habitat yang paling memadai bagi satwa bercula satu tersebut, dimana saat ini populasinya diperkirakan berjumlah sekitar 50 ekor.
Februari 8, 2008
· Disimpan dalam Tak Berkategori
Suka menulis fiksi (baik novel maupun cerpen), namun bingung bagaimana memulainya dan apa saja yang sebaiknya dilakukan berikutnya? Berikut adalah cara step-by-step yang saya lakukan dalam menulis fiksi. Kalian bisa membandingkan cara ini dengan style kalian sendiri. Siapa tahu bisa tercipta kombinasi yang lebih baik. Ide Semua ceritaku dimulai dari sebuah ide. Bisa mengenai tokoh ceritanya (seorang perempuan yang berkelana ke masa lalu), setting -nya (sebuah negeri antah-berantah seperti Madriva di “Magical Seira), atau plotnya (cerita tentang trah Hanafiah yang berhubungan sa`tu sama lain). Ketika saya mendapatkan sebuah ide, walau tidak yakin itu bagus atau tidak, saya pasti menuliskannya pada notes untuk menghindari faktor lupa. Masa inkubasi (pengendapan ide) Kadang saya tahu sebuah cerita dari awal sampai akhir, namun lebih sering terjadi adalah hanya satu-dua ide saja yang terlintas, sehi`ngga saya hanya menulisnya lalu kembali ke pekerjaan (cerita) sebelumnya. Cara ini biasanya menyebabkan ide yang diendapkan tersebut bertambah seiring hal-hal menarik dan pemikiran baru yang saya lihat atau dengar dari TV maupun orang sekitar. Beberapa dari ide saya justru berkembang lebih baik dengan ditinggalkan dulu di pikiran. Akumulasi ide Ketika satu-dua ide terbentuk, insting saya mengatakan bahwa saya butuh ide ketiga untuk membuat plot cerita berjalan. Setelah itu, ide-ide lain yang akan bergabung dalam “satu akumulasi” seiring berjalan waktu akan menyempurnakan konsep cerita saya dalam novel tersebut. Notes Ketika ide-ide berkembang menjadi kumpulan ide yang saling berhubungan, saya menyadari pikiran sudah tidak mungkin lagi dijejali sampai penuh sesak, hingga saya harus lebih banyak membuat notes. Untuk cerpen, biasanya notes tersebut simpel dan sedikit. Sedangkan untuk novel, saya pasti akan lebih banyak merencanakan ini-itu hingga notes lebih panjang dan mendetail. Menulis Ketika ide bagus terformulasi dan sudah tahu cerita akan dibawa ke mana, mulailah saya menulis. Saya memberi fokus khusus pada prolog maupun bab 1 karena di situlah penentu apakah pembaca tertarik untuk membaca kelanjutan cerita kita. Setelah itu biasanya saya akan break sebentar dan melakukan proyek lain untuk menghindari kejenuhan. Tapi saya tetap berusaha menanamkan kedisiplinan diri untuk selalu menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Rehat Ketika draft pertama telah selesai, singkirkan dulu. Saya berusaha untuk tidak memikirkan tentang cerita itu lagi selama 1-2 minggu. Tujuannya adalah untuk “menjauh” dulu dari cerita dan membacanya seperti kita membaca cerita orang lain, sehingga dapat menilai lebih obyektif dan perbaikan dapat dilakukan lebih tepat. Membaca Setelah cerita disingkirkan selama beberapa minggu, kini waktunya untuk membacanya. Saya menetapkan standar agar cerita yang dibaca ini harus enjoyable , seperti jenis cerita yang biasa saya nikmati. Oleh karena itu, biasanya saya sudah siap dengan bolpen di tangan untuk mengoreksi langsung naskah itu di tangan. Revisi Dengan bolpen di tangan dan mengacu pada notes yang sudah dibuat sebelumnya, maka mulailah saya merevisi, mulai dari koreksi besar dan umum sampai yang kecil. Beberapa cerita kompleks memang membutuhkan revisi mendetail—harus ditambahkan, harus dikurangi maupun diganti. Kalau ada typos (salah ketik), segera koreksi saat itu juga. Copyeditting Kegiatan ini termasuk membetulkan typos , memperbaiki tata bahasa, kosa kata, salah pengejaan, serta menulis ulang kalimat-kalimat yang terdengar kurang tepat. Hal ini sangat krusial, terutama kalau kamu ingin menerbitkan karya tersebut. Editor tentunya lebih suka membaca naskah yang bersih, bukan? Formatting Terakhir adalah mem-format naskah, yaitu: memilih huruf yang tepat, merapikan dan menetapkan alinea, dan semua itu bisa dilakukan dengan software menulis kita. Saya menggunakan Microsoft Word, dan semua alat untuk melaksanakan proses itu tersedia. Ta-da .. kini jadilah naskah kalian yang siap dikirim ke penerbit
dikutip dari: www.sittakarina.com