10 langkah menulis fiksi by sitta karina

Suka menulis fiksi (baik novel maupun cerpen), namun bingung bagaimana memulainya dan apa saja yang sebaiknya dilakukan berikutnya? Berikut adalah cara step-by-step yang saya lakukan dalam menulis fiksi. Kalian bisa membandingkan cara ini dengan style kalian sendiri. Siapa tahu bisa tercipta kombinasi yang lebih baik. Ide Semua ceritaku dimulai dari sebuah ide. Bisa mengenai tokoh ceritanya (seorang perempuan yang berkelana ke masa lalu), setting­ -nya (sebuah negeri antah-berantah seperti Madriva di “Magical Seira), atau plotnya (cerita tentang trah Hanafiah yang berhubungan sa`tu sama lain). Ketika saya mendapatkan sebuah ide, walau tidak yakin itu bagus atau tidak, saya pasti menuliskannya pada notes untuk menghindari faktor lupa. Masa inkubasi (pengendapan ide) Kadang saya tahu sebuah cerita dari awal sampai akhir, namun lebih sering terjadi adalah hanya satu-dua ide saja yang terlintas, sehi`ngga saya hanya menulisnya lalu kembali ke pekerjaan (cerita) sebelumnya. Cara ini biasanya menyebabkan ide yang diendapkan tersebut bertambah seiring hal-hal menarik dan pemikiran baru yang saya lihat atau dengar dari TV maupun orang sekitar. Beberapa dari ide saya justru berkembang lebih baik dengan ditinggalkan dulu di pikiran. Akumulasi ide Ketika satu-dua ide terbentuk, insting saya mengatakan bahwa saya butuh ide ketiga untuk membuat plot cerita berjalan. Setelah itu, ide-ide lain yang akan bergabung dalam “satu akumulasi” seiring berjalan waktu akan menyempurnakan konsep cerita saya dalam novel tersebut. Notes Ketika ide-ide berkembang menjadi kumpulan ide yang saling berhubungan, saya menyadari pikiran sudah tidak mungkin lagi dijejali sampai penuh sesak, hingga saya harus lebih banyak membuat notes. Untuk cerpen, biasanya notes tersebut simpel dan sedikit. Sedangkan untuk novel, saya pasti akan lebih banyak merencanakan ini-itu hingga notes lebih panjang dan mendetail. Menulis Ketika ide bagus terformulasi dan sudah tahu cerita akan dibawa ke mana, mulailah saya menulis. Saya memberi fokus khusus pada prolog maupun bab 1 karena di situlah penentu apakah pembaca tertarik untuk membaca kelanjutan cerita kita. Setelah itu biasanya saya akan break sebentar dan melakukan proyek lain untuk menghindari kejenuhan. Tapi saya tetap berusaha menanamkan kedisiplinan diri untuk selalu menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Rehat Ketika draft pertama telah selesai, singkirkan dulu. Saya berusaha untuk tidak memikirkan tentang cerita itu lagi selama 1-2 minggu. Tujuannya adalah untuk “menjauh” dulu dari cerita dan membacanya seperti kita membaca cerita orang lain, sehingga dapat menilai lebih obyektif dan perbaikan dapat dilakukan lebih tepat. Membaca Setelah cerita disingkirkan selama beberapa minggu, kini waktunya untuk membacanya. Saya menetapkan standar agar cerita yang dibaca ini harus enjoyable , seperti jenis cerita yang biasa saya nikmati. Oleh karena itu, biasanya saya sudah siap dengan bolpen di tangan untuk mengoreksi langsung naskah itu di tangan. Revisi Dengan bolpen di tangan dan mengacu pada notes yang sudah dibuat sebelumnya, maka mulailah saya merevisi, mulai dari koreksi besar dan umum sampai yang kecil. Beberapa cerita kompleks memang membutuhkan revisi mendetail—harus ditambahkan, harus dikurangi maupun diganti. Kalau ada typos (salah ketik), segera koreksi saat itu juga. Copyeditting Kegiatan ini termasuk membetulkan typos , memperbaiki tata bahasa, kosa kata, salah pengejaan, serta menulis ulang kalimat-kalimat yang terdengar kurang tepat. Hal ini sangat krusial, terutama kalau kamu ingin menerbitkan karya tersebut. Editor tentunya lebih suka membaca naskah yang bersih, bukan? Formatting Terakhir adalah mem-format naskah, yaitu: memilih huruf yang tepat, merapikan dan menetapkan alinea, dan semua itu bisa dilakukan dengan software menulis kita. Saya menggunakan Microsoft Word, dan semua alat untuk melaksanakan proses itu tersedia. Ta-da .. kini jadilah naskah kalian yang siap dikirim ke penerbit

dikutip dari: www.sittakarina.com

4 Tanggapan so far »

  1. 1

    praze said,

    wah…ide yang bagus
    sekian lama saya mencari ide kebuntuan akan novel saya akhirnya dapat terjawab
    keep go in
    i wish dreams come true

  2. 2

    arulchandrana said,

    hi, nice to read ur blog. wow, its amazing, i always need something to help me in writing. u know, so far i often send my stories to nws ppr bt alwys failed. ha ha ha lol. well, i’m waiting fr u at my blog

  3. 3

    ilham said,

    bc dolo

  4. 4

    andriee said,

    hE’em2
    kreatIIP..
    PAling bingung tu bikin cerita mengalir ga kaku…….
    the most difficult things..


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: