resensi buku magical of syeira-sitta karina


Paperback synopsis
Untuk menutup gerbang dimensi selamanya, dibutuhkan darah seorang ksatria Madriva…

Seira ingin menutup gerbang dimensi antara Madriva dan Bumi selama-lamanya. Bukan hanya usaha keras namun juga pengorbanan besar yang harus ia putuskan saat itu. Ditambah sahabatnya Lilla Kielsten kini sudah kembali ke Indonesia, dan ksatria Madriva yang ketiga telah bangkit… untuk menjadi sekutu Ashram.

Pilihan sulit harus segera Seira putuskan: memenangkan cintanya pada Abel (atau Seth) atau menjadikan dunianya aman selamanya. Dan mengingat hanya satu orang ksatria Madriva yang dibutuhkan darahnya untuk menyegel gerbang dimensi, salah satu dari ketiga ksatria sahabat ini—Iolanthe, Seth, dan Rey—harus mengucapkan selamat tinggal…

Excerpt
“LINGAKARTA.”

Sebuah putaran angin besar keluar dari telapak tangan Seira, menghancurkan sederetan tumbuhan bunga liar serupa dengan bunga mawar raksasa yang pernah dilihatnya di hutan-hutan Madriva—dan mereka tidak semenyeramkan ini.

“Ini yang terakhir, Pak.” Seira berpaling ke partner di sebelahnya.

“Di bagian utara kampus juga sudah dimusnahkan.” Pak Hari, dosen kuliahnya, menyarungkan kembali pisau magisnya.

“Wow, kita sekarang jadi kayak ghostbuster.” Seira memandangi serpihan bunga di dekat kakinya. “ Flowerbuster, lebih tepat. Waktu pertama kali saya ke Madriva, bunga-bunga ini sangat cantik dan.. jinak.”

Figur matahari yang cahayanya mencabik-cabik awan semakin menghilang di langit barat. Bayangan mereka perlahan melebur dengan senja.

“Padmira di Madriva bukanlah tumbuhan ganas,” Pak Hari menunjuk ke bibit-bibit baru bunga liar ini yang mulai tumbuh di dasar selokan dan terlihat berdenyut seperti jantung yang hidup,”tapi di sini, mereka tidak dapat beradaptasi dengan suhu dan aura Bumi sehingga akan menggeliat marah lalu membusuk. Padmira yang membusuk akan menjadi sarang bagi stora .”

“Stora.” Seira berusaha mengingat lagi perbendaharaan Bahasa Madriva-nya. “Oh ya, sejenis kumbang yang dapat menghisap chakra manusia. Maka itu, kita tidak boleh membiarkan padmira tumbuh di Bumi, kan ?”

“Benar sekali, Kaili . Baik padmira maupun stora .. keduanya bukan makhluk Kaia. Kehadirannya akan mengganggu keseimbangan alam.”

“Tapi ini banyak sekali, Pak… mereka bisa tumbuh di mana saja—dan saya baru masuk kuliah! Dan kuliah di TI ternyata berat banget. Bagaimana saya bisa dapat straight A’s kalau saya selalu… overworked begini—” Seira terdiam. Menghela napas panjang dan mengutuki kebodohannya mengeluh begini melulu.

Lalu Seira teringat sesuatu: pilihan. Ini pilihannya. Dengan menghilangkan ingatan Abel akan latar belakang kehidupan Seth, berarti ia harus siap bertempur tanpa bantuan, walau itu melelahkan kalau harus dikerjakan bersamaan dengan profesinya sebagai mahasiswi tingkat 1.

Pak Hari terlihat kurang suka akan perkataan merajuk itu.

“Maaf, Pak.” Seira bergumam halus. Ia seharusnya tidak perlu mengucapkan itu walau kadang ia kangen teman berbagi. Sesaat dulu, ketika Seth bersatu dalam tubuh Abel, pertama kalinya Seira tidak merasa sendiri menghadapi ini. Mereka dapat bercerita , bertempur, dan mengatur strategi bersama. Namun resikonya sangat mahal: Seth yang bertempur habis-habisan menyebabkan tubuh Abel rusak berat.

Senyum mahal Pak Hari sedikit tersembul. “Sisi baiknya adalah kau jadi bisa menggunakan jurus angin Iolanthe yang tangguh itu karena sering berlatih.”

“Yeah.” Seira mengangguk. “Walaupun tadinya Lingakarta hanya berupa angin puting-beliung untuk nyentil lalat aja.”

Senyum lebar menghiasi wajah lelah Seira. Dikepalkan tangan kanannya. Di situ ia melihat kekuatan, harapan, dan waktu— waktunya yang tidak banyak.

Menjadi putri ksatria selalu menjadikannya tidak punya waktu yang banyak. Ia selalu memiliki deadline, dengan taruhan nyawa manusia lain yang harus dilindunginya.

“Kau pasti juga bisa,” Pak Hari mengambil kembali map-mapnya di tanah dan bergegas pergi, ”menghasilkan puting beliung yang dapat memindahkan gedung.”

“Saya.. lebih baik tidak,” Seira nggak mau membayangkan itu. Terlalu menyeramkan. “Pak Hari?”

Pak Hari menghentikan langkahnya.

“Menurut Bapak, kenapa makhluk-makhluk itu.. padmira .. stora … bisa ada di sini?”

“Kondisi terakhir gerbang dimensi adalah tertutup. Aman. Jadi, seharusnya tidak ada yang berpindah sama sekali.” Seira mengikuti dosennya dan berhenti pada persimpangan area parkir. Ia kini telah memiliki mobil sendiri. VW Golf dari ibu dijual—atas izin beliau—dan sebagai gantinya ia membeli sedan Jepang second untuk transportasi ke kampus dan menjemput Nandhi, sepupunya, pulang sekolah. Mereka semua kini tinggal di rumah ibu Seira di daerah Kemang. Setelah dihuni 4 orang dengan kamar sendiri-sendiri, kamar kosong di rumah itu masih tersisa 6 buah!

“Kalau kondisi gerbang dimensi aman..” Seira mengecek satu persatu kemungkinan, “Talisman sendiri amankah..?”

“Semua terjaga dengan baik di Aswatthaya.” Pak Hari memalingkan wajah. Seira tidak perlu melihat perubahan ekspresi ragunya.

“Kalau begitu kehadiran makhluk-makhluk ini di Bumi…?” Seira terdengar ragu akan pertanyaannya. Hal yang aneh, mengingat selama beberapa bulan terakhir ia merasa kehidupan di dunianya normal, sampai saat ini.

“Kecuali,” Pak Hari berjalan ke arah yang berbeda dengannya, meninggalkan Seira berdiri dalam kegelapan,”ada yang membawa makhluk-makhluk itu ke sini.” ****

“ASGARN ! Habislah kau.” Abel ngos-ngosan. Sudah jam 1 pagi, dan ia mulai kebingungan harus mengarang alasan apa lagi lantaran belakangan ini pulang pagi melulu.

“Ini bukan yang terakhir, Akasya .”

“Aku tahu, Eris. Hanya saja.. ini menyebalkan—dan melelahkan! Tumbuhan busuk ini.. juga serangga di dalamnya… bagaimana kalau orang biasa melihatnya? Semua ini bisa bikin panik kota .”

“Hanya kita , keturunan Madriva, yang dapat melihatnya. Orang biasa tidak. Tapi kalau kita tidak bergerak cepat, energi orang-orang dapat terserap dan akan banyak yang bergelimpangan di jalanan. Lagipula..” sesaat Eris nampak cemas,”Iolanthe takkan dapat menang tanpa bantuanmu.”

“Sangat mustahil kalau hanya membabat tiap pucuk yang tumbuh begini, kita harus mencari biangnya. Bagaimana laporan terakhir dari Lornac Megara?” Abel terpikir akan perkataan terakhir si ajudan. Ia tahu, kekuatan Iolanthe memang tidak sebanding dengan Seth. Ia membutuhkannya. Seira…

“Belum ada informasi baru lagi. Padmira dan stora ini memang sekarang tumbuh juga di Bumi.”

Eris, atau ajudan Kakek Ghani yang berprofesi sebagai satpam di Bumi, sejujurnya takjub melihat perkembangan ksatria yang dulu ia kenal bengal selama menjadi raja di Madriva. Dengan cepat Abel melebur dengan jiwa Seth dan menjadi ksatria tangguh untuk melindungi Bumi dari ‘gangguan kecil’.

“Mungkin, Akasya, kita dapat meminta bantuan Iolanthe untuk membasmi serangga—“

“Tidak ada minta bantuan siapa-siapa!” Abel memotong dengan ekspresi marah, lalu rautnya kembali melunak dan ia hanya sanggup berbisik. “ Jangan .. melibatkan Seira.”

“Kau telah melakukan yang terbaik, Paduka.” Eris membungkuk penuh hormat. Sejak awal ia tidak ingin menjadikan ini ajang perdebatan.

Mungkin demikian—bagi orang lain.

“Aargh—!!!“ Tapi Abel merasa kebalikannya karena mendadak kepalanya sakit. Seperti terbentur sesuatu yang keras namun ia tidak jatuh pingsan. Ia tetap sadar. Yang berubah hanya sorot matanya.. senyumannya… semuanya .

Lalu wajahnya yang setengah menunduk, perlahan terangkat. Senyum yang sama namun juga terasa berbeda, lebih sinis, lebih dingin, menghiasi wajahnya.

“Tentu, Eris. Apapun akan kulakukan untuk membantu Putri -ku.” Ia lalu mengalihkan pandangannya ke langit malam. Garis-garis lelah di wajahnya hilang dalam sekejap.

Brengsek kau, Seth. Kau tidak bisa seenaknya bertukar tempat denganku begini. Ini Bumi, bukan Madriva—

“Anda sudah tidak kelelahan, Tuanku?” Eris cukup terkejut akan perubahan sikap itu. Sesaat tadi begitu frustrasi dan bingung, kini tuan mudanya diliputi aura determinasi.

Abel—dengan Seth yang kini telah mengambil alih—hanya menatapi lawan bicaranya, heran.

“Lelah? Itu hanyalah penyakit orang Bumi. Bukan kita , ras Madriva.” Lalu pemuda ini melirik arlojinya, penuh rencana.

“Eris, aku akan bertemu Seira.”

“Sekarang?”

“Apakah itu aneh?” Abel melontarkan pertanyaan yang membuat kening Eris semakin berkerut.

“Bukankah Seira pastinya sedang beristirahat?”

“Kalau melihat siapa sebenarnya Seira,” Abel tersenyum dikulum,”saya yakin tidak. Ksatria Madriva tidak pernah beristirahat.”

Seth! Kembali ke diriku sekarang juga. Kau tidak bisa bertemu Seira dalam keadaan seperti ini! Lagipula ini sudah tengah malam.

Eris nampak tidak curiga. “Ya. Seira adalah salah satu reinkarnasi paling sempurna dari ksatria Madriva. Ia banyak mewarisi sifat-sifat hebat Iolanthe.”

Abel mengangguk setuju, masih dalam senyum yang sama. Tekadnya sudah bulat; ia akan melakukan hal yang tidak pernah berani Abel lakukan—

SETTHHH! Jangan , suara dari dalam tubuh Abel terus berseru, pernah melakukan hal gegabah.. menggunakan tubuhku!

—yaitu menjadikan Seira pengantinnya.

Kau gila, Seth!

“Saya pergi dulu, Eris.” Abel meninggalkan si ajudan seorang diri.

Dan tiba-tiba langkahnya terhenti.

Suara di dalamnya yang membuatnya begini.

Kalau kau tidak mengubah arah pergimu malam ini, aku tidak akan membantumu memasang talisman inti pada gelang Isladera.

Seth kesal dengan ancaman yang nampaknya cukup mengganggu baginya.

Merasa menang, Abel meneruskan, Ya. Kita punya kesepakatan, bukan? Dengan terpasangnya talisman inti pada Isladera, maka penemuan reinkarnasi Rey akan lebih cepat. Itu berarti.. peluang menutup gerbang dimensi untuk selama-lamanya akan lebih besar.

Seth kurang suka mendapati dirinya—yang seorang raja—diperintah seperti ini. Sekelabat pemikiran melintas di kepalanya, dan itu terbaca juga oleh Abel.

Jangan.. pernah bermimpi. Suara Abel, walau hanya di dalam hati, terdengar melecehkan juga mematikan. Gerbang dimensi ditutup, kau kembali ke Madriva.. tidak membawa Seira.

Seira tetap tinggal di dunianya .

“Kukira itu bukan bagian dari kesepakatan.” Seth mencibir seraya memainkan gumpalan api yang menari-nari pada jari telunjuknya, sekalian sebagai penerang jalanan yang gelap.

Kita buat kesepakatan baru: gerbang dimensi ditutup, kau kembali ke sana, berisitirahat dengan tenang, dan Seira tetap di sini.

“Kau tahu siapa kamu?” Seth bertanya angkuh, ingin agar Abel mencamkan baik-baik kenyataan yang berlangsung. “Kau bukan apa-apa berhadapan dengan raja seperti diriku. Aku bisa meremas jantungmu kapan saja, Abel Dharmacahya.”

Kau membutuhkan tubuh ini untuk menopang kekuatanmu. Kau pasti tidak bodoh untuk melakukan hal itu, Seth.

“Waktunya akan tiba..” Seth hanya bersiul ringan.

Ya, kita lihat saja. Abel tidak gentar sedikitpun.

“…apakah kau atau aku yang akan dipilih olehnya.

dikutip dari http://www.sittakarina.com

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    infogue said,

    Artikel di blog Anda sangat menarik dan berguna sekali. Anda bisa lebih mempopulerkannya lagi di infoGue.com dan promosikan Artikel Anda menjadi topik yang terbaik bagi semua pembaca di seluruh Indonesia. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!

    http://buku.infogue.com
    http://buku.infogue.com/resensi_buku_magical_of_syeira_sitta_karina

  2. 2

    kristi damayanti said,

    ini ceritanya tentang apa ?
    waktu itu pernah nemu bukunya di toko buku..
    tapi ragu beli, cz takut gak nyampe imajinasinya…. ; )


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: